Menu MBG Balita di Desa Sukakersa Jadi Sorotan, Sambal dan Apel Asam Dinilai Kurang Tepat.

0:00

Ragamrajawalinusantara.id —  Sukabumi.

Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian publik setelah menu yang diberikan kepada balita menuai kritik dari masyarakat. Sorotan tersebut terjadi di Desa Sukakersa, Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi, di mana paket makanan yang dibagikan dinilai belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan anak usia dini.

Program MBG yang ditujukan untuk balita, ibu hamil, dan ibu menyusui sejatinya bertujuan meningkatkan kualitas gizi kelompok rentan. Selain itu, program ini diharapkan mampu menekan angka stunting serta mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Namun, implementasi di lapangan memunculkan polemik ketika masyarakat menemukan adanya sambal serta buah apel dengan rasa asam dan tekstur kesat dalam menu balita.

Menu tersebut disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Khartini Bakti Negeri yang melayani wilayah Desa Sukakersa, Kecamatan Parakansalak. Sejumlah warga mempertanyakan kesesuaian makanan tersebut dengan kebutuhan balita, mengingat anak usia dini umumnya membutuhkan makanan dengan tekstur lembut, rasa tidak terlalu tajam, serta mudah dikonsumsi.

Baca juga Artikel ini:  Wakili Danramil, Personil Koramil 06/Lamala Hadiri Pembukaan Jambore Semarak Gerakan Pramuka Kwartir Ranting Masama

Kritik bermunculan dari masyarakat yang menilai keberadaan sambal, meskipun tidak terlalu pedas, tetap kurang tepat diberikan kepada balita. Selain itu, buah apel yang terasa asam dan bertekstur kesat dinilai berpotensi membuat anak kesulitan mengunyah atau bahkan menolak makanan tersebut. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengurangi efektivitas program dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.

Masyarakat Desa Sukakersa berharap penyusunan menu MBG dapat lebih memperhatikan standar gizi balita. Mereka menilai bahwa program yang baik harus diiringi dengan perencanaan yang matang, termasuk pemilihan bahan makanan yang sesuai usia serta memperhatikan selera anak. Tanpa hal tersebut, tujuan program dikhawatirkan tidak tercapai secara maksimal.

Baca juga Artikel ini:  Sukseskan Pendampingan MBG ,Babinsa Kawal Pendistribusian Makanan Bergizi Gratis di Sekolah

Di sisi lain, pihak ahli gizi yang terlibat dalam penyusunan menu menjelaskan bahwa sambal dimaksudkan sebagai variasi. Sambal yang diberikan disebut berupa sambal kecap dengan jumlah cabai sangat sedikit dan dianggap tidak pedas. Namun, pihak tersebut juga mengakui bahwa hal tersebut merupakan kelalaian dalam mempertimbangkan menu khusus untuk balita.

Kontroversi yang terjadi di Desa Sukakersa, Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi ini menjadi catatan penting dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Evaluasi menyeluruh dinilai perlu dilakukan agar standar menu benar-benar sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat, khususnya anak usia balita yang membutuhkan perhatian lebih dalam asupan gizi.

Masyarakat berharap perbaikan segera dilakukan sehingga program MBG dapat berjalan sesuai tujuan awal, yakni meningkatkan kualitas kesehatan anak dan mendukung tumbuh kembang generasi masa depan secara optimal. Dengan penyesuaian menu yang lebih tepat, diharapkan manfaat program dapat dirasakan secara nyata oleh seluruh penerima manfaat.

Baca juga Artikel ini:  Danramil 02/Bunta Hadiri Forum Perangkat Daerah, Mengkaji Rencana Strategis Perangkat Daerah Kec Nuhon 2024-2026

 

YB / Dede

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *