Aceh Timur: Ragamrajawalinusantara.id_ Jembatan Kebaikan dari Kampus ke Lokasi Bencana. Di tengah hiruk-pikuk bencana yang silih berganti melanda Aceh Timur, ada satu nama yang kerap disebut para relawan: Maimunzir, atau yang lebih akrab disapa Bang Gaes.

Bukan pejabat, bukan pula tokoh formal, namun kehadirannya menjadi simpul penting yang menghubungkan niat baik para relawan dengan warga yang membutuhkan uluran tangan. Bang Gaes dikenal sebagai “corong relawan” — penghubung komunikasi dan koordinasi bagi relawan yang hendak berkegiatan di Kabupaten Aceh Timur. Setiap kali ada komunitas atau individu yang ingin menyalurkan bantuan, namanya hampir selalu muncul sebagai kontak pertama.
Saat ini, Bang Gaes masih menempuh pendidikan di Fakultas Sastra dan Bahasa Aceh, Universitas Bina Bangsa Getsampena (UBBG). Meski berstatus mahasiswa, jejaring sosialnya terbilang luas. Ia aktif sebagai seniman yang kerap tampil di berbagai panggung dan kegiatan sosial, membuatnya dikenal lintas komunitas, desa, hingga kecamatan.
Tak jarang, para relawan dari luar daerah langsung menghubunginya untuk meminta pendampingan di lapangan. Bahkan, sebagian bantuan kerap dititipkan langsung kepadanya untuk kemudian disalurkan ke lokasi-lokasi pengungsian.
“Banyak relawan dari luar mempercayakan saya untuk mendampingi mereka. Bahkan banyak yang langsung memberikan bantuan ke saya untuk disalurkan langsung ke lokasi-lokasi pengungsian,” ujar Bang Gaes.
Kepercayaan itu bukan hadir tanpa alasan. Konsistensinya turun ke lapangan, kemampuannya membaca kebutuhan warga, serta jaringan lokal yang kuat membuat proses distribusi bantuan menjadi lebih cepat dan tepat sasaran. Dalam banyak situasi darurat, keberadaan figur penghubung seperti Bang Gaes sangat menentukan kelancaran kerja kemanusiaan. Namun, bagi Bang Gaes, bantuan logistik saja belum cukup. Ia melihat pemulihan pascabencana membutuhkan lebih dari sekadar sembako dan pakaian layak pakai.
Ada luka psikologis, trauma anak-anak, dan beban berat yang dipikul para perempuan di pengungsian. Ia berharap ke depan semakin banyak relawan, khususnya dari kalangan mahasiswa, yang terlibat aktif dalam kegiatan kemanusiaan. “Saya berharap banyak mahasiswa turun membantu membersihkan rumah warga yang tertimbun longsor, serta membuat kegiatan psikososial bagi perempuan dan anak korban bencana,” harapnya.
Di balik kesederhanaannya, Bang Gaes menjadi bukti bahwa peran kemanusiaan tidak selalu harus besar dan formal. Terkadang, cukup menjadi jembatan kebaikan, menghubungkan niat tulus dengan mereka yang membutuhkan.













