Menu MBG Ramadan Disorot! Orang Tua Keluhkan Gizi Minim dan Porsi Tak Layak

0:00

MAMOSALTO,Ragamrajawalinusantara.id. –  Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan suci Ramadan mulai menuai sorotan dari para orang tua siswa siswi.

Mereka mempertanyakan kandungan gizi hingga jumlah porsi makanan yang dinilai tidak layak untuk dikonsumsi anak-anak.

Sejumlah orang tua bahkan memposting menu MBG yang diterima anak mereka setiap hari selama Ramadan karena dianggap tidak memenuhi standar gizi.

Salah satu orang tua murid di SDN 01 Tanasumpu, Ibu Rani, mengaku anaknya kerap membawa pulang makanan MBG ke rumah selama bulan puasa.

“Kalau saya lihat menunya, ada Susu, Roti Murahan, Rambutan, Kacang Kacangan ,” ujar Ibu Rani.

Sebagai ibu rumah tangga, Ibu Rani mempertanyakan kandungan gizi dari menu yang disajikan, khususnya Roti Murahan.

Baca juga Artikel ini:  Hari Ini, Sasaran Fisik Pembuatan 2 Unit MCK Umum Satgas TMMD Selesai 100 Persen

“Saya orang kampung sedikitnya tahu tentang gizi, tapi kalau roti murahan kandungan gizinya apa ya,” ungkapnya.

Keluhan serupa juga disampaikan orang tua murid Ibu Gilang di SDN 01 Tanasumpu, Kecamatan Mamosalto, Kabupaten Morowali Utara. Mereka menilai menu MBG selama Ramadan terlihat minimalis dan tidak sebanding dengan kebutuhan gizi anak.

“Satu menu MBG per hari isinya hanya 4 macam, seperti susu, Roti Murahan, Kacang kacangan dan Rambutan. Kalau dihitung, biayanya paling sekitar Tujuh ribu rupiah,” ucap Ibu Gilang (bukan nama sebenarnya).

Sementara itu, Tokoh Masyarakat, Azet Basuni, menilai program MBG yang menyedot anggaran besar tidak sejalan dengan kondisi di lapangan.

Baca juga Artikel ini:  Prajurit TNI Selalu Bantu Penyaluran Makan Bergizi Gratis Siswa

“Menu yang disajikan lebih besar pasak daripada tiang. Artinya, anggaran yang dikucurkan dengan menu yang diterima siswa banyak potongannya. Siswa hanya menerima sekitar 60 persen dari anggaran per porsi,” kata Azet.

Ia juga mengkritik pelaksanaan program yang dinilai hanya mengejar formalitas tanpa memperhatikan kualitas makanan. “Yang penting program berjalan, tapi kualitas makanan tidak dijaga,” ujarnya.

Azet meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), khususnya di wilayah selatan Kabupaten Morowali Utara, untuk lebih memperhatikan kualitas dan kandungan gizi menu yang dibagikan kepada siswa.

“Tidak hanya menu, tapi gizinya juga harus diperhatikan,” tandasnya. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari ahli gizi maupun pihak SPPG maupun pemilik Yayasan terkait keluhan tersebut.( TIM )

Baca juga Artikel ini:  Bupati Armia selamat bertugas sebagai dandim Gayo Lues letkol agus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *