Refleksi Tajam untuk SPPG: Jangan Biarkan Kata “Bergizi” Kehilangan Makna di SMP Negeri 30 Kota Bekasi.

0:00

Ragamrajawalinusantara.id – Kota Bekasi.

Program SPPG membawa nama besar: pemenuhan gizi anak sekolah. Kata “bergizi” bukan sekadar istilah administratif, melainkan janji moral kepada orang tua dan masa depan generasi, 02 Maret 2026.

Namun ketika menu yang diterima siswa di SMP Negeri 30 Kota Bekasi hanya terdiri dari tiga kurma, sepotong kecil jagung, satu telur, dan satu potong tempe tipis, maka publik berhak bertanya dengan tegas: apakah ini benar-benar mencerminkan standar gizi remaja?

Ini bukan soal cukup atau tidak cukup secara rasa. Ini soal kecukupan secara ilmiah.

Remaja usia 13–15 tahun membutuhkan energi harian yang signifikan untuk menunjang pertumbuhan tulang, perkembangan otot, fungsi hormon, dan aktivitas belajar. Jika total kalori dari menu tersebut jauh di bawah kebutuhan ideal, maka SPPG tidak bisa berlindung di balik alasan “unsur sudah lengkap”. Lengkap secara jenis tidak selalu berarti cukup secara jumlah.

Baca juga Artikel ini:  Penitipan Aset WNA Karl Heinrich Jochem Kepada Anak Angkatnya di Bandar Lampung

Tiga kurma memberi gula alami—ya. Telur menyumbang protein—ya. Tempe memberi tambahan protein nabati—ya. Jagung menyumbang karbohidrat—ya. Tetapi berapa total kalorinya? Berapa gram proteinnya? Apakah mendekati standar kebutuhan remaja SMP? Jika tidak, maka yang terjadi adalah pengurangan kualitas program secara substansi.

Lebih tajam lagi: jangan sampai program yang dirancang untuk memperkuat generasi justru berubah menjadi simbolik dan seremonial.

Pembagian makanan bukan sekadar formalitas untuk memenuhi target penyaluran. Anak-anak bukan angka statistik. Mereka bukan laporan capaian. Mereka adalah individu yang tubuhnya benar-benar membutuhkan asupan memadai.

SPPG harus berani membuka data:

Berapa standar kalori yang ditetapkan untuk siswa SMP?

Apakah menu yang dibagikan sudah diuji kecukupan gizinya?

Siapa yang mengawasi kesesuaian porsi di lapangan?

Baca juga Artikel ini:  Apel Pagi Satgas TMMD Ke-126 Kodim 1307/LB, Bangun Semangat Ciptakan Sinergitas

Apakah ada audit berkala terhadap kualitas dan kuantitas makanan?

Jika jawabannya belum jelas, maka di situlah akar masalahnya.

Refleksi tajam berarti berani mengakui kekurangan. Jika porsinya terlalu kecil, katakan dan perbaiki. Jika ada keterbatasan anggaran, jelaskan secara terbuka. Transparansi jauh lebih terhormat daripada pembelaan defensif. Publik tidak menuntut kemewahan—publik menuntut kelayakan.

Program SPPG seharusnya menjadi kebanggaan Kota Bekasi. Tetapi kebanggaan tidak lahir dari klaim, melainkan dari kualitas nyata yang dirasakan siswa. Jika siswa masih merasa lapar atau tidak cukup bertenaga, maka ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Ini bukan serangan. Ini panggilan tanggung jawab.

Karena ketika kata “bergizi” ditempelkan pada sebuah program, maka standar yang dipasang tidak boleh setengah-setengah. Jangan biarkan makna itu tereduksi hanya karena porsi yang serba minimal. Jangan biarkan generasi muda tumbuh dengan asupan yang tanggung, sementara kita merasa sudah menjalankan kewajiban.

Baca juga Artikel ini:  Dansatgas TMMD Kodim 1311/Morowali Kunjungi Pesantren Darul Quran Alkhairaat, Jalin Kedekatan dengan Ustaz

SPPG harus memilih: menjadi pelaksana administratif, atau menjadi penjaga masa depan generasi. Jika memilih yang kedua, maka evaluasi menyeluruh dan perbaikan nyata bukan lagi pilihan—melainkan keharusan.

 

YB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *