Bekasi – Ragamrajawalinusantara.id
Ketika publik menuntut kejelasan, tanggung jawab, dan transparansi, oknum manajemen RS Karunia Kasih Jatiwaringin justru memilih jalan yang mengejutkan sekaligus memantik kemarahan. Setelah kasus dugaan penolakan pasien wartawan Yusup Bahtiar dengan dalih kamar penuh menyedot perhatian luas, pihak manajemen rumah sakit dilaporkan mengirim seorang utusan sebagai “mediator” dengan tawaran penyelesaian yang mencengangkan: mengajak ngopi bareng.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk pelecehan terhadap akal sehat publik. Persoalan yang menyangkut keselamatan nyawa, profesionalisme layanan kesehatan, serta perlakuan terhadap jurnalis yang sedang menjalankan tugas, justru direduksi menjadi pertemuan santai tanpa kejelasan tanggung jawab.
Alih-alih tampil ke hadapan publik dengan klarifikasi resmi, permintaan maaf terbuka, atau penjelasan medis yang dapat dipertanggungjawabkan, oknum manajemen RS Karunia Kasih seakan memilih jalur belakang. Ajakan “ngopi bareng” itu memunculkan kecurigaan kuat: apakah ini upaya meredam persoalan secara senyap agar tak membesar, atau sekadar strategi cuci tangan dari krisis yang kian membelit?
“Ini bukan perkara pribadi. Ini menyangkut hak pasien dan martabat profesi wartawan. Mengajak ngopi justru memperlihatkan betapa seriusnya masalah ini diremehkan,” ujar salah satu insan pers yang geram dengan sikap manajemen rumah sakit.
Hingga berita ini diturunkan, tidak ada konferensi pers resmi, tidak ada dokumen transparan terkait kondisi riil ketersediaan kamar saat kejadian, dan tidak ada pernyataan terbuka yang bisa diuji publik. Yang ada justru pendekatan informal yang dinilai arogan dan tidak beretika.
Kasus RS Karunia Kasih kini bukan lagi sekadar dugaan kelalaian layanan kesehatan, melainkan telah berubah menjadi potret buram krisis moral manajemen rumah sakit. Desakan agar Dinas Kesehatan, organisasi profesi medis, dan aparat penegak hukum turun tangan semakin keras disuarakan.
Publik bertanya dengan nada getir:
Jika nyawa dan martabat insan pers hanya dianggap cukup diselesaikan di meja kopi, lalu di mana tanggung jawab sebuah institusi kesehatan yang seharusnya menjunjung tinggi kemanusiaan?
YB













