Berita  

Ibu-Ibu Panik dan Anak Menangis, Gemuruh Flare Stack PT Medco di Indra Makmu Seperti Pesawat Jatuh – Medco Dinilai Abaikan Sosialisasi SOP

0:00

Aceh Timur: Ragamrajawalinusantara.id_
Kepanikan melanda ibu-ibu dan anak-anak di Desa Blang Nisam, Kecamatan Indra Makmu, Aceh Timur. Mereka berhamburan keluar rumah sambil menggendong anak karena suara gemuruh keras dari cerobong api (flare stack) Central Processing Plant (CPP) PT Medco E&P Malaka.

Insiden yang terjadi pada Jum’at pagi (17 Oktober 2026) pukul 10 : 48 WIB itu berlangsung sekitar 15 menit. Suaranya digambarkan warga seperti pesawat hendak jatuh tepat di atas atap rumah, disertai kobaran api yang membumbung tinggi ke langit dari flare stake

“Kami semua berada di dalam rumah, tiba-tiba ada suara yang sangat keras, seperti suara pesawat, gak pernah sebelumnya ada suara sekeras ini. Kami kira Medco mau meledak,” ujar *Cut Kayla, warga Blang Nisam Kec. Indra Makmu* dengan nada trauma.

“Perasaan kami waktu itu Medco mau meledak, sangking takutnya. Suaranya macam pesawat hendak jatuh di atas rumah. Kuat sekali, ibu-ibu lari keluar rumah. Anak-anak menangis. Kami trauma,” tambahnya.

Baca juga Artikel ini:  HRD Tinjau Stasiun Bogor, Pastikan Sarana dan Prasarana Transportasi Publik Terus Dibenahi

Warga mengaku panik karena tidak pernah mendapat informasi apapun dari pihak perusahaan. Tidak ada sosialisasi, tidak ada pemberitahuan, tidak ada sirine peringatan.

*NURAQI: INI KELALAIAN FATAL, MEDCO ABAIKAN SOSIALISASI SOP*

Menanggapi kepanikan ibu-ibu tersebut, aktivis Lingkungan *Nuraqi* mengecam keras PT Medco E&P Malaka. Menurutnya, perusahaan migas tersebut telah mengabaikan kewajiban paling dasar: sosialisasi SOP keselamatan kepada warga lingkar tambang.

“Ini kelalaian fatal. Ketika ibu-ibu dan anak-anak panik sampai berlarian, itu bukti Medco tidak pernah melakukan sosialisasi SOP flare stack. Tidak ada pemberitahuan, tidak ada simulasi, tidak ada mitigasi. Tiba-tiba warga dikagetkan dengan gemuruh seperti pesawat tempur. Wajar mereka trauma. Ini pelanggaran hak warga atas rasa aman,” tegas Nuraqi.

Menurut Nuraqi, sesuai UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, setiap aktivitas migas yang berpotensi menimbulkan kebisingan dan getaran wajib disosialisasikan.

Baca juga Artikel ini:  Wakil Bupati Aceh Timur Dampingi HRD Tinjau Sejumlah Infrastruktur Yang Rusak Parah di Aceh Timur.

“Mana Humas dan HSE nya Medco? Kalau flare stack itu normal, kenapa suaranya sampai bikin ibu-ibu panik? Kalau itu emergency flaring, kenapa tidak ada informasi dini? Jangan anggap warga lingkar tambang, terutama ibu-ibu dan anak-anak, sebagai kelinci percobaan,” kecamnya.

*LANGGAR SOP KETAT FLARE STACK*

Nuraqi menjelaskan, secara teknis SOP flare stack sangat ketat. Suara gemuruh yang sangat kencang merupakan indikasi terjadinya pelepasan gas dalam volume besar (high-rate flaring), tekanan gas yang terlalu tinggi, atau ketidakseimbangan pasokan assist steam

“Harus diinvestigasi sumber gasnya. Apakah ini Emergency Blowdown atau ketidakstabilan proses biasa. Jikapun karena start-up, shutdown, atau maintenance, SOP mewajibkan manajemen kilang untuk memberikan notifikasi resmi kepada masyarakat agar tidak panik. Dan wajib ada pemantauan Desibel dB(A) di batas pagar kilang agar tidak melewati baku mutu kebisingan,” jelas Nuraqi.

Nuraqi mendesak:

1. PT Medco E&P Malaka untuk segera memberikan klarifikasi dan permohonan maaf terbuka kepada ibu-ibu dan warga Blang Nisam.

Baca juga Artikel ini:  Mahasiswa Aceh Timur Desak Penegak Hukum Tangkap Dun Belanda.

2. Meminta BPMA untuk turun melakukan audit lingkungan dan audit keselamatan di CPP PT Medco.

3. Mewajibkan PT Medco melakukan sosialisasi SOP kedaruratan secara langsung kepada warga lingkar tambang, terutama kaum ibu-ibu dan anak-anak.

Hingga berita ini dirilis, pihak Humas PT Medco E&P Malaka belum memberikan keterangan resmi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *