Aceh Tamiang – ragamrajawalinusantara.id | Di tengah gencarnya pembangunan dan derasnya arus modernisasi, masih ada sudut negeri yang tenggelam dalam kegelapan. Bukan sekadar gelap karena malam, tetapi gelap karena belum tersentuh pelayanan dasar yang seharusnya menjadi hak setiap warga negara.
Di sebuah rumah tua yang berdiri rapuh di Desa Perkebunan Pulau 3 Blok 40, Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang, tinggal seorang perempuan renta bernama Nek Kirah, sekitar 70 tahun. Ia menjalani hari-harinya seorang diri dalam kesunyian, ditemani dinding kayu yang lapuk, atap yang bocor, lantai tanah, serta sebuah senter kecil yang menjadi satu-satunya sumber cahaya ketika malam datang.
Rumah itu tak pernah dialiri listrik. Air bersih pun belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya. Saat matahari terbenam, kegelapan menyelimuti seluruh isi rumah. Hanya cahaya redup dari senter tua yang menemani langkah Nek Kirah—itu pun jika baterainya masih memiliki tenaga.
Dengan penglihatan yang mulai kabur dan tubuh yang semakin rapuh dimakan usia, ia harus meraba dinding setiap kali ingin berpindah tempat. Tak ada keluarga yang mendampingi. Tak ada tangan yang menuntun. Yang tersisa hanyalah ketabahan seorang lansia yang bertahan menjalani hidup dalam keterbatasan.
Bertahun-tahun kondisi itu seakan menjadi pemandangan biasa. Orang datang dan pergi. Waktu terus berganti. Namun kegelapan tetap menjadi sahabat setia di rumah sederhana milik Nek Kirah.
Hingga akhirnya kisah itu sampai ke telinga Lena Hati Kusuma Atmaza Rao, Anggota DPRK Aceh Tamiang dari Fraksi Partai NasDem.
Nurani berbicara lebih keras daripada jabatan. Baginya, sulit diterima bahwa di tengah berbagai kemajuan pembangunan, masih ada seorang nenek yang menjalani hari-hari tanpa listrik dan air bersih.
Pada Jumat, 31 Juli, Lena memilih datang langsung. Bukan untuk mencari sorotan, melainkan memastikan bahwa negara masih memiliki wajah kemanusiaan.
Ia didampingi dr. Tofik Haranas Lubis dari Puskesmas Tamiang Hulu, Datok Penghulu Jumani, serta komunitas ibu-ibu senam “Macan”. Mereka datang membawa perhatian, pelayanan kesehatan, dan harapan bagi seorang lansia yang selama ini hidup dalam kesendirian.
Di rumah yang sederhana itu, mereka duduk bersama di lantai tanah, menggenggam tangan Nek Kirah yang mulai keriput dimakan usia. Pemeriksaan kesehatan dilakukan, tekanan darah diukur, kondisi fisik diperiksa, dan percakapan hangat mengalir tentang bagaimana ia menjalani hari, apa yang dimakan, hingga bagaimana ia melewati malam-malam panjang tanpa cahaya.
Suasana rumah yang biasanya sunyi mendadak berubah hangat. Bukan karena listrik akhirnya menyala, melainkan karena hadirnya kepedulian yang selama ini begitu lama dinantikan.
Kisah Nek Kirah bukan hanya tentang seorang lansia yang hidup dalam kemiskinan. Lebih dari itu, kisah ini menjadi cermin bahwa masih ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan bersama. Akses terhadap listrik, air bersih, pelayanan kesehatan, dan kehidupan yang layak bukanlah sebuah kemewahan, melainkan hak konstitusional setiap warga negara.
Momentum ini diharapkan menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, pemerintah provinsi, hingga seluruh lembaga terkait agar segera menghadirkan solusi nyata. Jangan biarkan masih ada warga yang menghabiskan masa senjanya hanya ditemani cahaya senter.
Karena sesungguhnya, kehadiran negara tidak diukur dari banyaknya program yang tertulis dalam dokumen, melainkan dari kemampuannya menjangkau mereka yang hidup di sudut-sudut paling sunyi.
Nek Kirah tidak membutuhkan belas kasihan. Ia hanya ingin merasakan hak yang sama seperti warga lainnya: rumah yang terang, air bersih yang mengalir, dan keyakinan bahwa dirinya tidak ditinggalkan.
Semoga cahaya kecil dari senter milik Nek Kirah menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa pembangunan yang sejati adalah pembangunan yang mampu menghadirkan keadilan hingga ke rumah-rumah paling sederhana.
Sebab, sebuah bangsa tidak diukur dari gemerlap kotanya, melainkan dari bagaimana ia memperlakukan mereka yang paling lemah. Jangan biarkan senja kehidupan seseorang berlalu dalam gelap, ketika kita semua masih memiliki kesempatan untuk menyalakan harapan.
“Jangan biarkan senja seseorang berlalu dalam kegelapan. Karena secercah kepedulian mampu menjadi cahaya yang menghidupkan kembali harapan.”












